Showing posts with label film analysis comment. Show all posts
Showing posts with label film analysis comment. Show all posts

Thursday, 23 February 2012

High Noon (1953)


 Judul: High Noon
Tahun-rilis: 1953
Produser: Stanley Kramer, Carl Foreman
Sutradara: Fred Zinneman
Penulis-skenario: Carl Foreman, John W. Cunningham
Sinematografer: Floyd Crosby
Editor: Elmo Williams, Harry W. Gerstad
Pemain: Gary Cooper, Grace Kelly
Scoring: Dimitri Tiomkin
Genre: Western
Durasi: 85 menit

High Noon, dibintangi Gary Cooper sebagai Will Kane dan Grace Kelly sebagai istrinya. Dengan adanya dua bintang besar itu, sudah cukup menjadikan film ini menarik untuk ditonton. Tapi film ini menawarkan lebih dari itu. Film ini memiliki cerita yang sangat baik dan menarik untuk disimak.
Gary Cooper and Grace Kelly

Bercerita tentang Will Kane, seorang mantan sheriff, yang baru saja menikah Grace Kelly. Pada hari yang sama, ia mendapat surat bahwa penjahat yang dulu pernah ia tangkap baru saja dibebaskan -- dan ia memburu Kane. Penjahat itu bernama Frank Miller, yang dilumpuhkan oleh Kane beberapa tahun sebelumnya karena sering mengacau menebarkan teror di kota tersebut. Teman-teman Will mencoba menyuruh Will untuk kabur dari kota itu; namun ia menolak. Will mencoba mengumpulkan teman-temannya untuk bersama menghadapi Miller, namun mereka enggan melakukannya dengan berbagai alasan yang tidak masuk akal. Akhirnya, Will harus berdiri sendiri menghadapi gerombolan Frank Miller.

Konstruksi plotnya simpel dan menarik. Simpel karena alur-waktunya linear. Kita dibawa mengikuti usaha Kane selama 2 jam mengumpulkan teman-temannya untuk menghadapi Frank Miller. Selama proses tersebut Will Kane juga mengalami hal yang sama terus menerus, yakni lepas dari jasanya sebagai pelindung kota tersebut dan fakta bahwa sebenarnya Will bukan lagi sheriff dari kota itu, ia terus-menerus dikhianati oleh teman-temannya, oleh penduduk kota itu; Film ini menceritakan kekecewaannya, kesedihannya, penghinaan yang ia dapatkan, dan bagaimana ia menanggapi semuanya itu dan terus maju menurut keyakinannya.

Will Kane deserted by his own people
Film ini juga memiliki musik dan sinematografi yang baik. Musik country yang dimainkan oleh satu orang dan satu gitar, dibuat oleh Dimitri Tiomkin, menambah kesan sepi dan kesendirian dari sang tokoh utama. Sinematografi secara umum sangat baik, lepas dari ketertarikan pribadi saya akan film hitam-putih. Shot yang paling berkesan bagi saya adalah ketika Will Kane pergi untuk menghadapi Frank Miller seolah ia menyongsong kematiannya, sementara situasi kota kosong, sepi, dan dingin kepadanya. Kamera mulai dari close-up wajah Kane yang pucat, lalu crane-shot ketika Will mulai melangkah pergi melewati kota tersebut, sementara kamera mulai menangkap situasi kota yang kosong.
Frank Miller and his friends

Saya baca di wikipedia.org bahwa film ini adalah film yang paling sering dimainkan di Gedung Putih, Amerika Serikat. Itu bisa dimengerti; film ini adalah film mengenai orang yang berjuang demi orang-lain, demi sebuah masyarakat; dan ketika akhirnya orang tersebut ditinggalkan oleh orang-orang yang ia bela, ia tetap melakukan tugasnya; ia tetap memenuhi tanggung-jawabnya.

Tuesday, 21 February 2012

Sherlock Jr. - hardworking Buster Keaton




Sebelumnya, saya pernah menonton film Buster Keaton yang lain, Our Hospitality, dan tidak terlalu terkesan. Dalam film lain, A Personal Journey with Martin Scorsese through American Movies, secara singkat Scorsese mengatakan Buster Keaton adalah seorang jenius. Tentu saja berdasarkan pengalaman saya sebelumnya, kali itu saya tidak memahami maksud dari perkataan tersebut. Saya baru memahaminya setelah menonton film Keaton yang satu ini --  Sherlock Jr.

Buster Keaton as Sherlock Jr.
Bagi yang belum mengenal atau pernah mendengar mengenai Buster Keaton, dia adalah raja komedi era film-bisu tahun 1920-an, berdampingan dengan Charlie Chaplin. Namun masa-emas Keaton tidak berlanjut ketika popularitas film-suara meningkat pada akhir dekade 20-an hingga akhirnya menjadi standar teknologi pembuatan film (begitu pula dengan Chaplin). Lelucon keahliannya adalah visual-komedi -- komedi-aksi. Karakter yang ia ciptakan tidak menggunakan dialog sedikitpun. Dan ketika saya sekilas melihat cuplikan salah satu film-suara Keaton, What! No Beer?, saya terkejut hanya karena ia tidak lagi melakukan komedi-aksinya, dia hanya berbicara sepanjang waktu. Dia seperti V (dari film V for Vendetta) yang telah melepaskan topengnya; seorang pesulap yang telah mejual triknya kepada publik. Plus, dialognya tidak lucu. Dia hancur. Talentanya terbuang begitu saja. Salah satu tragedi besar dalam sejarah film.

Scorsese mengatakan bahwa ia adalah seorang jenius. Ia ibarat pesulap yang memiliki visi besar mengenai trik yang akan ia lakukan, dan ia berhasil merealisasikannya. Leluconnya sendiri sebagian besar tidak terlalu lucu bagi saya. Namun bagaimana ia melakukan lelucon itu, resiko apa yang ia hadapi ketika melakukan aksinya, itu terkadang sangat mencengangkan. Semuanya mengenai ilusi yang ia ciptakan membuatnya terlihat nyata dalam layar, tentang teknik.

One of his thrilling comedy

Resiko yang ia ambil dalam beberapa adeganpun sangat berbahaya untuk ukuran saat ini. Mungkin resiko yang ia ambil lebih besar dari apa yang dilakukan Jackie Chan. Beruntung, melalui segala resiko tersebut dan tetap hidup adalah sesuatu yang layak disyukuri oleh Keaton. 

One of the stunts he did on the film
Namun semua resiko tersebut di dasari akan visi yang ia percaya adalah visi yang layak dipertaruhkan. Visi lelucon-visual Keaton sangat mengagumkan. Dari yang grandeur, hingga aksi-aksi kecil. Dari yang saya tuliskan di atas, hingga aksi kecil ketika Keaton yang sedang mengendarai sepeda-motornya secara kebetulan berhasil melewati jembatan yang belum selesai dibangun karena dua buah truk secara kebetulan melintas di lubang jembatan tersebut (humor yang hingga sampai saat itu masih terus dieksploitasi) -- menunjukkan bahwa Keaton, dan visinya, memang sesuai dengan apa yang dikatakan Scorsese.

Judul: Sherlock Jr.
Tahun-rilis: 1924
Produser: Joseph M. Schenck
Sutradara: Buster Keaton
Penulis-skenario: Clyde Bruckman, Jean Havez, Joseph A. Mitchell
Sinematografer: Byron Houck, Elgin Lessley
Editor: Buster Keaton
Genre: Comedy
Durasi: 44 menit

Thursday, 16 February 2012

early Spielberg - Something Evil

Something Evil bercerita tentang sebuah keluarga yang pindah ke sebuah rumah di pedesaan yang ternyata berhantu.
Yang buat saya hebat dari film ini, di saat kita bisa merasakan horror dari filmnya, kita tidak diperlihatkan monster apapun sepanjang film. Kita melihat mainan-gantung bergerak-gerak tertiup angin, atau lampu-halaman yang terombang-ambing liar, namun keberadaan antagonis hanya diperlihatkan sebatas itu.

painting of the haunted house
Ini lebih baik ketimbang menampilkan monster yang jelas-jelas palsu seperti, maaf, The Thing from Another World atau The Wasp Women, yang monsternya adalah manusia yang menggunakan kostum. Bukan berarti keduanya film buruk, namun bila kita tidak menampilkan monsternya, penonton diberi kebebasan untuk membayangkan sendiri bentuk fisik monster tersebut. Dan khusus bagi filmmaker-nya, mereka tidak harus mengeluarkan uang mereka untuk membeli kostum. Great deal, kan?
the wife left alone to protect her childs

Satu lagi aspek yang sangat memperkuat kesan horor film ini adalah score-nya. Sejak awal film, ketika kita diperlihatkan gambar seorang wanita yang mengintip dari balik pintu, rantai-pintu melintang di wajahnya, lalu sebuah score yang sangat menakutkan dimainkan. Musiknya semakin lama semakin tinggi, sehingga sayapun merasa semakin takut. Beberapa menit awal film, ketika score ini sering dimainkan, saya berkali-kali menengok ke belakang, arah pintu-kamar saya, kalo – kalo... Score ini dibuat oleh Vladimir Salinsky.

Judul: Something Evil
Tahun-rilis: 1972
Produser: Alan Jay Factor
Sutradara: Steven Spielberg
Penulis-skenario: Robert Clouse
Sinematografer: Bill Butler
Editor: Allan Jacobs
Pemain: Sandy Dennis, Darren McGavin, Ralph Bellamy
Genre: Horror
Durasi: 73 menit

Monday, 13 February 2012

Laura - 1944



Laura adalah sebuah film misteri-noir yang bercerita tentang McPherson, seorang detektif yang mencoba mengungkap pembunuhan seorang wanita. Meskipun film ini mendapatkan rating yang hampir-sempurna di beberapa website terkemuka, beberapa kritikus menilai film ini cacat dari sudut pandang realita. Hal itu memang benar adanya. Namun, casting dan performa para pemainnya yang memukau bagi saya menghapus itu semua.

Waldo and Shellby who's often seen with McPherson
Dalam websitenya, filmcritic.com, Christopher Null menuliskan tentang Laura bahwa film ini tidak masuk akal. Ia menuliskan bahwa jaman-sekarang, tidak mungkin seorang detektif akan mengikut sertakan orang yang dicurigai sebagai pelaku apalagi yang berprofesi sebagai penulis untuk ikut dalam investigasi sang detektif. Dan memang hal itu yang terjadi di dalam film. McPherson mengajak dua pria yang ia curigai di beberapa kesempatan dalam investigasinya. Selain itu, pada bagian akhir, Waldo, salah satu karakter pria tersebut, ternyata membawa dua peluru shotgun di dalam sakunya, yang tentunya hal yang sangat riskan mengingat ia sering kali bersama McPherson dan ia adalah salah satu tersangka utama. Lalu ia menembakkan shotgun tersebut ke arah Laura, namun meleset; padahal jarak antar keduanya tidak lebih dari 4 meter, berada di dalam satu ruangan yang sama. Shotgun tidak melepaskan pelurunya dalam 1 garis lurus, namun menyebar. Karena itu tidak mungkin ia meleset.

The beginning of love story between Laura and Waldo Lydecker

Namun lepas dari kekurangan itu, penampilan dan performa para pemain dalam film ini begitu apik, sehingga saya bisa melupakan plausibilitas film. Laura diperankan oleh Gene Tierney, seorang wanita yang anggun dan cantik, baik secara fisik maupun kepribadian sehingga orang-orang disekitarnya pun jatuh-hati padanya, termasuk McPherson, sang detektif -- dan kecantikannya itu pula yang menjadi memotivasi pembunuhan pada dirinya. Gene Tierney memainkan peran tersebut dengan sempurna.

Dana Andrews plays the detective, McPherson

Dana Andrews memerankan tokoh detektif McPherson, seorang detektif yang fokus, kaku, dingin terhadap pekerjaannya, bukan karakter yang menyenangkan dalam realita, namun dalam film ia terlihat memiliki pesona-nya sendiri. Karakternya yang terlihat seolah heartless, hingga ia akhirnya jatuh-hati pada Laura, membuat kisah-cintanya memiliki daya-tarik tersendiri.
Discreetly McPherson has a feeling toward the woman on the painting

Dua pria yang ia jadikan tersangka adalah Waldo Lydecker, yang diperankan oleh Clifton Webb, dan Shellby Carpenter, yang diperankan oleh Vincent Price (Ini kalau tidak salah disebut Tim Burton sebagai aktor favoritnyaJ). Shellby berbadan tinggi, tegap, berumur sekitar 30an, wataknya dominan lembut dan pengasih. Sedangkan Waldo berbadan kurus, berumur 50-60an, berwatak ambisius dan licik. Keduanya memiliki momen-momen mereka sendiri dalam film, dan memerankan perannya dengan sangat baik.

Secara keseluruhan, film ini bagus. Kekurangan yang ada pada film sebenarnya sulit terlihat bila kita tidak mencoba untuk mencarinya, dan bisa tetap menikmati film ini. 


Judul: Laura|
Tahun-rilis: 1944|
Produser: Otto Preminger|
Sutradara: Otto Preminger|
Penulis-skenario: Jay Dratler, Samuel Hoffenstein, Vera Caspary (penulis novel)|
Pemain: Gene Tierney, Dana Andrews, Clifton Webb, Vincent Price|
Genre: Noir|
Durasi: 88 menit|

Friday, 10 February 2012

The Wasp Woman - 1959

 
 The Wasp Women adalah sebuah film horror sci-fi yang bercerita tentang seorang wanita yang mencoba sebuah hasil eksperimen baru yang diyakini bisa membuat dirinya menjadi lebih muda. Alih-alih, sang wanita malah bermutasi menjadi seekor monster-lebah yang harus membunuh orang untuk mempertahankan hidupnya.


Film ini sangat menghibur bagi saya. Filmnya tidak banyak mikir, pengalaman yang hampir mirip dengan film yang baru-baru ini saya tonton, The Thing from Another World. Penonton tidak harus membuka matanya lebar-lebar dan mengerenyitkan dahi untuk menonton film ini, karena filmnya enteng dan menghibur (meskipun sepertinya ada juga kritik sosial yang ingin disampaikan Corman, setidaknya dari judul film ini, WASP, yg juga adalah akronim dari White Anglo Saxon Protestant.)

Lepas dari rendahnya budget yang digunakan, penampilan karakter, suara, framing, lighting, dan score yang, bagi saya, setara dengan film kelas A. Akting karakternya, terutama tokoh-utama yang diperankan oleh Susan Cabot, menampilkan akting yang sangat baik(dan juga sexually attractive). Framing dan lighting film ini pun jelas menunjukkan visi visual Corman yang setara dengan sutradara-sutradara film kelas A.

Janice Starlin, plays by Susan Cabot, appeared young after she overuse the experimental formula from the lab

Corman juga memiliki kesempatan untuk berinovasi di aspek suara, lighting, dan score; berhubung genre yang ia pilih adalah genre total-fiksi, horror sci-fi. Misalkan, penggunaan dengung lebah yang digunakan untuk menandakan keberadaan monster. Atau di aspek score, Corman menggunakan musik dinamis  untuk adegan klimaks, ketika dua tokoh-utama film bertarung dengan sang monster lebah, menghasilkan suasana liar hutan-rimba, seolah karakternya bertarung dengan hewan liar atau suku pedalaman yang primitif.

Untuk saya, this is a good movie, not a waste of time.

Judul: The Wasp Woman|
Tahun-rilis: 1959|
Produser: Roger Corman|
Sutradara: Roger Corman|
Penulis-skenario: Leo Gordon|
Genre: Horror Sci-fi|
Durasi: 73 menit|

Wednesday, 8 February 2012

Killer's Kiss - film awal Stanley Kubrick



Judul: Killer’s Kiss|Tahun-rilis: 1955|Produser: Stanley Kubrick|Sutradara: Stanley Kubrick|Penulis-skenario: Stanley Kubrick, Howard Sackler|Sinematografer: Stanley Kubrick|Editor: Stanley Kubrick|Pemain: Frank Silvera, Jamie Smith, Irene Kane|Genre: Noir|Durasi: 67 menit

Bagi para penggemar film Kubrick; 2001: Space Odyssey, Clockwork Orange, Full Metal Jacket, Dr. Strangelove, Path of Glory, The Shining, dll; Killer’s Kiss adalah sebuah film noir; fitur kedua Stanley Kubrick.

Film ini bercerita tentang seorang petinju yang karirnya telah terseok-seok, Vincent Rapallo (dimainkan oleh Frank Silvera), yang jatuh cinta kepada wanita yang ‘salah’, membawa dirinya ke dalam sebuah konflik dengan seorang bos-mafia.

Secara khusus saya menyukai penampilan tokoh wanita  dalam film ini; Gloria Price, diperankan oleh Irene Kane. Irene, meskipun terlihat sudah berumur sekitar 30an, memiliki daya-tarik sensual yang membuatnya menarik untuk dilihat. Ia juga memerankan tokohnya, yang sebenarnya, lepas dari happy-ending yang katanya adalah intervensi dari pihak studio dimana ia berlari menyongsong Vincent yang akan pergi meninggalkan segalanya, adalah seorang tokoh oportunis dan licik, dengan sangat baik.

Irene Kane as Gloria Price

Stanley Kubrick yang memiliki background sebagai seorang fotografer, memanfaatkan momentum ini untuk menunjukkan visi visualnya sebaik mungkin. Hasilnya secara umum kualitas gambar film ini sangat baik. Ada beberapa framing yang sangat menonjol sepanjang film; seperti shot ketika 2 orang preman membunuh seorang pria yang dikira adalah Vincent di sebuah gang kecil yang gelap – atau shot Vincent yang memperhatikan Gloria dari balik jendela kamarnya – dan ada pula pengejaran Vincent di atap gedung pada adegan terakhir yang diambil dalam dengan satu long-take. Lalu ada juga adegan pertandingan tinju yang diambil dengan sangat bagus, mungkin lebih bagus dari yang ada di Body and Soul-nya Robert Rossen atau Somebody Up There Likes Me-nya Robert Wise.

One of Kubrick's monumental shot on this film

Selain itu, kita pasti tidak akan luput dari ekperimen yang dilakukan Kubrick dalam film ini, terutama dari aspek editing. Meskipun hasilnya terlihat kasar, namun memperkuat semangat independen dari film, dan saya mencintai film-film inovatif seperti ini.

Lepas dari apa yang terlihat dilayar, ternyata, setelah membaca artikel beberapa blog dan situs mengenai film ini, drama yang ada di belakang layar tidak kalah menarik untuk diikuti. Kali itu, Kubrick bukanlah siapa-siapa. Ia kesulitan untuk mengumpulkan modal; yang akhirnya ia dapatkan sebanyak $40.000 dari pamannya. Yang lebih menarik lagi, Kubrick hidup ditopang dana pemerintah pada kali itu. Dengan kata lain, ia adalah gembel. Namun semangatnya, di saat kondisi yang ‘naas’ tersebut, untuk membuat film sangat patut diacungi jempol.

Beberapa kritikus menganggap filmnya lifeless. Namun menurut saya film noir biasanya memang memiliki karakter yang tidak-hidup. Emosi yang dirasakan saya ketika menonton film noir adalah perasaan kosong, mati-rasa (ini sih bosan namanya...). Tapi memang film noir pada umumnya bila hanya dilihat dipermukaan adalah film-film yang membosankan. Film ini menyajikan lebih dari yang biasanya diberikan pada film-film noir, membuat film ini menarik untuk disaksikan.

Saturday, 21 January 2012

Jane Eyre (1943)



Judul: Jane Eyre|Tahun-rilis: 1943|Produser: William Goetz, Kenneth Macgowan|Sutradara: Robert Stevenson|Penulis-skenario: John Houseman, Aldous Huxley, Henry Koster|Pemain: Orson Welles, Joan Fontaine, Peggy Ann Garner|Sinematografer: George Barnes|Editor: Walter Thompson|Score: Bernard Herrmann|Genre: Drama|Durasi: 97 menit

Jane Eyre adalah sebuah film drama menceritakan kisah Jane Eyre yang jatuh cinta kepada tuannya, Edward Rochester. Pada versi 1943 yang disutradarai oleh Robert Stevenson, yang kebetulan namanya sering terlihat dalam acara TV Hitchcock Presents, Jane dan Rochester diperankan oleh Joan Fontaine dan Orson Welles.

Orson Welles and Joan Fontaine on the movie
Akting kedua aktor ini adalah nilai tambahan besar yang membuat film ini menarik untuk diikuti, memerankan karakter Jane dan Rochester yang dalam. Joan Fontaine memerankan Jane Eyre yang agak kaku, karena dirinya memiliki masa-kecil yang penuh dengan kesedihan dan kebencian, namun disaat yang sama kepedihan itu menjadikannya seorang wanita yang kuat. Sedangkan Welles memerankan Rochester, seorang aristokrat (atau kaya-raya) yang kejam dan tegas, kehilangan sifat kehangatan yang dulu pernah dimilikinya semenjak tragedi demi tragedi menimpanya. Selain itu dikarenakan perbedaan strata antara kedua tokoh, fase awal hubungan romantis mereka ditunjukkan secara halus. Dari segi casting dan pengarahan karakter, film ini adalah sebuah kesuksesan.

first-appearance of Edward Rochester
Dalam film ini juga memiliki banyak adegan yang bagus. Yang paling berkesan adalah adegan kemunculan pertama Edward Rochester di layar. Jane yang sedang berjalan sendirian di tengah kegelapan dan kabut, mendengar bunyi derapan kuda yang mendekat, diiringi musik Hermann(Bernard Hermann) yang membuat suasana menjadi mengancam bagi Jane, lalu seekor anjing-besar melewati Jane. Jane hampir tertabrak anjing itu, ia menghindar, lalu seorang pria dengan kudanya yang hitam meringkik, kudanya berdiri tinggi, dan musik Hermann juga menambah nilai dramatis bagi momen itu. Selain adegan itu, banyak adegan indah lainnya. Misalkan adegan ketika Adelle membangunkan Jane dari balik tirai. Atau Jane yang sama sekali tidak dipandang ketika teman-teman Rochester berkunjung ke kastilnya, menghina pekerjaan Jane, sementara Jane sedang duduk menyulam di sudut ruangan. Masih banyak lagi adegan yang sangat bagus dari film ini.
 
When Jane agreed to marry Edward
Selain itu, saya juga menyukai kualitas gambar dari film ini. Beberapa shot silhoute mengingatkan saya pada film Gone with the Wind. Beberapa adegan, seperti adegan ketika Jane menerima lamaran menikah dari Rochester disertai badai dan daun-kering yang berterbangan, atau adegan ketika Jane mendengar suara-gaib Rochester yang memanggilnya dari langit, dieksekusi dengan sangat baik.


Namun, bila dilihat secara keseluruhan, visual film ini tidaklah solid. Misalkan, ada hubungan grafis antara bagaimana pada adegan awal kita melihat Jane yang dikurung di balik sebuah pintu kayu. Pada kesempatan lain ketika Jane sudah dewasa, kita melihat istri-aib Rochester yang mengalami nasib sama dengan Jane ketika kecil, di kurung di balik sebuah pintu kayu. Persamaan grafis ini begitu jelas, sehingga idealnya ada rasa simpati yang kuat dari Jane ketika melihat istri Rochester karena istri tersebut memiliki nasib yang sama seperti dirinya dulu. Namun saya tidak merasakan itu. Atau misalnya pada adegan ketika Jane yang merasa terkekang di sekolahnya mulai bermimpi ketika melihat sebuah jalanan kosong. Kita diperlihatkan jalanan tersebut, lalu Jane mulai berkata pada temannya bahwa suatu hari ia akan menelusuri jalanan tersebut, dari London, ke Paris, hingga ke Madrid dan sebagainya. Namun ketika akhirnya Jane bisa pergi dari sekolah tersebut, visual tersebut hilang, seolah impian Jane ketika itu sudah terlupakan. Padahal adegan itu bagi saya sangat menyentuh, dan ketika adegan tersebut tidak dilanjutkan, ada rasa kecewa yang ditinggalkan.
Very early on the film. A moment before first appearance of little-Jane. She was locked the room.

Edward open the door of his wicked-wife. Jane, on his wedding-gown, was watching.

Film ini juga terlalu banyak memberikan informasi yang tidak perlu. Misalkan, dalam narasinya disebutkan bahwa kala itu adalah masa perubahan Inggris, ketika uang menentukan segalanya. Menurut saya informasi tersebut  tidaklah penting. Karena ada beberapa informasi yang tidak penting, yang kebanyakan adalah kutipan dari buku aslinya, terkadang fokus saya kepada film menghilang karena merasa informasi yang akan diberikan tidak harus semuanya saya serap. Selain hal itu, saya tidak bisa menghilangkan perasaan bahwa film ini terdiri dari 2 babak yang kurang-saling-berhubungan. Pada babak awal, jelas identifikasi kita tertuju pada Jane karena Jane-kecil adalah tokoh gadis-kecil yang lemah, yang dihina oleh ibu-tirinya dan disiksa oleh kepala-sekolahnya. Namun ketika memasuki babak kedua, terutama ketika ia telah bertemu dengan Rochester, identifikasi tersebut menghilang. Kita tidak lagi melihat Jane yang dulu. Mungkin memang Jane masih merupakan tokoh yang ‘berbeda’ dengan sekitarnya, namun referensi atau hubungan antara keduanya semakin menghilang, digantikan dengan kisah romansa antara Jane dan Rochester. Perhatian kita terbagi antara Jane, dan Rochester yang baru saja muncul dipertengahan film. Karena terpisahnya kedua babak ini, mungkin sebenarnya babak pertama bisa saja dihilangkan, hanya digantikan dengan intertitle yang menjelaskan masa-lalu Jane yang suram. Namun bila hal itu dilakukan, kita akan kehilangan banyak adegan indah dari masa-kecil Jane yang diperankan Peggy Ann Garner, persahabatannya dengan Helen (yang diperankan Elizabeth Taylor-kecil), kehangatan tokoh Dr. Rivers, Mrs. Reed dan anaknya yang menjengkelkan, dan banyak lagi.
Peggy Ann Garner play as little Jane Eyre.



Namun secara keseluruhan film ini adalah sebuah karya hebat. Adegan-adegannya luar-biasa, kualitas gambarnya mengagumkan, dan akting karakter-karakternya (termasuk pemeran pendukungnya) sangat baik.

Thursday, 19 January 2012

Network - THIS is madness!

******************************************************* 

Untuk menyimpulkan segalanya sebelum menjadi terlalu rumit, film ini adalah sebuah karya-besar, sebuah masterpiece lainnya dari film-film Lumet yang ada. Sejujurnya saya masih belum terlalu mengerti mengapa Lumet selalu membuat masterpiece. Style dia begitu halus, kasat-mata, namun kesan itu pasti menempel dalam diri penonton bahwa film yang baru saja disaksikan adalah sebuah film yang spesial.
William Holden as Max Schoemacher

Lumet selalu mengambil genre drama bagi filmnya. Namun drama yang ia ambil bukanlah drama-romantis yang berkutat antara seorang pria, dirinya, dan seorang (atau lebih) wanita. Drama Lumet adalah drama yang seru, actionnya drama, drama yang action ... bukan drama yang lembek, yang penuh air-mata. Drama Lumet adalah drama yang macho, yang keras.

Film Network bercerita tentang kegilaan para pekerja televisi yang hidup bersumbu-kan rating/share program mereka. Mereka hidup demi rating. Film mengambil sudut-pandang Max Schoemacher, yang diperankan William Holden, seorang veteran pekerja stasiun televisi bernama UBS. Max melihat dunia-televisi di sekelilingnya yang menggila. Ia menyaksikan teman-lamanya terbawa arus itu dan menjadi seorang karakter yang disebut juru-selamat, padahal yang ia lakukan hanyalah menyebarkan kegilaannya lewat saluran-TV yang disiarkan pada jutaan masyarakat. Ia juga melihat generasi penerusnya yang kelewat ambisius, bahkan terkesan tidak-manusiawi. Karakter Diana Christensen, yang diperankan Faye Dunaway, adalah seorang wanita 30-an yang hidup demi-rating-TV. Dalam salah satu adegan ketika ia akan bercinta dengan Max, Diana terus mengoceh tentang pekerjaannya, hingga ia naik tempat tidur dan mulai bercinta dengan Max. Diana mendesah tanda orgasme, namun mungkin ia mengalami itu bukan karena percintaannya pada Max, namun ambisinya pada tempat ia bekerja. Ia begitu gila bahkan ketika ia menawarkan suatu ide pada seorang kepala gerombolan teroris agar orang itu membuat acara baginya, kepala teroris tersebut menjawab, “What the f*ck you talking about?” Robert Duvall memerankan tokoh Frank Hackett yang obsesif. Ia adalah karakter penguasa diktator, semua perkataannya harus terlaksa tanpa kompromi. Wataknya kurang-lebih sewarna dengan Diana.
Diana Christensen during one of the scene where she realized she's unable to feel at all

Di samping performa Faye Dunaway, Robert Duvall, William Holden yang memukau, Peter Finch juga memainkan perannya sebagai Howard Beale dengan sempurna. Howard Beale seangkatan dengan Max. Namun perbedaannya Beale hanya memiliki karirnya di dunia pertelevisian, sedangkan Max memiliki keluarga. Karena itu, ketika ia tertekan karena program TV yang ia bawakan selalu mendapatkan share yang buruk dan akhirnya ia dipecat, ia kehilangan segalanya. Pada minggu-minggu terakhirnya di stasiun TV, ia berkata di depan publik bahwa ia akan menembak dirinya 2 minggu dari waktu siaran itu! Seluruh kru stasiun TV panik! Dalam beberapa saat, gedung stasiun TV tersebut dipadati wartawan yang memenuhi pintu-keluar gedung tersebut. Namun Diana melihat potensi dari kegilaan Beale. Maka Diana membuat suatu program yang mengekspos kegilaan Beale. Pada episode awal program tersebut, tak ada yang memperhatikan acara tersebut. Beale semakin frustrasi. Begitu frustrasi hingga suatu malam ia merasa telah mendapat pencerahan. Esok harinya ia datang dan menggila di depan kamera. Kata-katanya yang terkenal adalah, “I’m mad as hell! And I won’t take it anymore!” Lalu dia mulai mengeluh tentang dunia yang penuh dengan kebusukan.

Peter Finch plays Howard Beale who's actually mad.
Oke, itu sekilas cerita tentang Howard Beale. Yang membuat saya menulis paragraf khusus baginya adalah akting kegilaannya yang begitu memukau bagi saya. Dari sorotan matanya, seperti halnya kita bisa melihat emosi-liar Dix Steele dalam In a Lonely Place-nya Nicholas Ray, kita melihat mata orang yang tidak-waras, yang berbahaya, yang...pokoknya anda tidak akan mau menatap mata Howard Beale ketika ia menggila. Ada banyak adegan dimana Beale yang berorasi di depan penontonnya mengajak mereka untuk memberontak pada situasi sosial saat itu, dan adegan-adegan itu begitu membuat saya terenyuh. Dia begitu bersemangat dan pandai berkata-kata, sehingga wajar bila ia memiliki pengikut, namun jelas ia bukanlah orang yang waras! Dan lebih gila lagi adalah ia memiliki pengikut.
Robert Duvall as Frank Hackett.

Film ini juga mengungkit tentang ketidak-matangan generasi-muda pada saat itu, betapa berbedanya pandangan mereka mengenai hidup. Semua penonton acara Howard Beale adalah anak-anak muda. Semua orang yang menjadi pengikut Beale menontonnya dari rumah juga adalah generasi-muda. Dalam salah-satu adegan William Holden dengan istrinya, William berkata mengenai generasi-muda saat itu adalah generasi yang belajar tentang kehidupan dari Bugs Bunny (karakter kartun TV). Generasi-muda digambarkan, dengan mudahnya mereka terbawa hasutan Beale untuk menolak kesulitan hidup, sebagai generasi yang tidak mau menerima kenyataan bahwa ada kesusahan dibalik sisi-mata koin kesenangan. William dan istrinya menjadi contoh-ideal generasi mereka yang dalam film ini digambarkan, kecuali Beale, sebagai pasangan yang dewasa, yang memepertahankan hubungan mereka meskipun Max secara terang-terangan mengatakan bahwa dirinya terlibah hubungan-khusus dengan seorang wanita-muda, Diana. Sedangkan ketika William mulai pindah ke tempat-tinggal Diana, hubungan tersebut begitu rapuh, dan dengan singkat William Holden pergi dari rumah tersebut.

"What the fuck you talkin' about?"

Ironi dari film adalah cara-pandang para pekerja stasiun TV yang hanya memikirkan share/rating, namun sangking gilanya, mereka sendiri–pun menjadi berita, atau mereka membuat berita dengan cara mereka menjalankan bisnis. Pada akhir film, para petinggi stasiun TV sedang berembuk untuk membunuh Howard Beale karena acaranya ‘membunuh’ stasiun-TV tersebut namun pemilik stasiun TV tidak mau menarik Beale dari program. Suatu saat, ketika sedang on-air, 2 orang teroris menembak Beale ketika ia membawakan acaranya. Namun kematiannya digambarkan seolah hanyalah sebuah acara TV.

Maafkan saya atas pembahasan filmnya yang cetek. Banyak hal yang bisa diperdalam dari film ini, bahkan mungkin layak dibahas adegan-per-adegan, namun tidak kali ini, mungkin lain kali atau ketika ada yang merequest, dengan bantuan yang me-request tentunyaJ Sebagai kata penutup, film ini luar-biasa! (“I say goddamn!! Goddamn!!”, says Mia.)


Judul: Network|Tahun-rilis: 1976|Produser: Howard Gottfried, Fred Caruso|Sutradara: Sidney Lumet|Penulis-skenario: Paddy Chayefsky|Pemain: Faye Dunaway, William Holden, Peter Finch, Robert Duvall|Sinematografer: Owen Roizman|Durasi: 121 menit

*******************************************************

Thursday, 12 January 2012

The "underrated" Silver Chalice - akting perdana Paul Newman



Judul: The Silver Chalice|Tahun-rilis:1954|Produser/Distributor:Warner-Brothers|Sutradara: Victor Saville|Penulis-novel: Thomas Costain|Penulis-skenario: Lesser Samuels|Pemain: Pier Angeli, Paul Newman|Durasi: 135 menit

Dalam edisi perdama  Film Guide pada tahun 1977, penulisnya memberikan nilai 0 dari 4 bagi film ini. Lebih dari 80% kritikus Rottentomatoes menganggap film ini adalah film gagal. IMDB memberikan film ini 2,5 bintang dari 5. Bahkan Paul Newman sendiri mengatakan bahwa film ini adalah film terburuk semasa dekade itu.  Akan tetapi menurut saya The Silver Chalice adalah sebuah film yang bagus dan bisa dinikmati, jauh dari membosankan. Mungkin memang set dari film ini terlihat tidak-matang. Dinding-dindingnya polos, seperti papan-kayu yang diberi warna, tanpa ukiran sedikitpun, tidak merefleksikan kemasyuran kekaisaran Romawi sedikitpun. Penonton sangat sadar ketika sebuah adegan diambil di dalam sebuah studio. Landskap kota sering-kali terlihat seperti blue-print CGI  landskap kota pada film-film jaman-sekarang. Kostumnya pun biasa saja, standar. Lalu propertinya sangat palsu, bahkan visi dari properti tersebut bisa dibilang buruk. Sebut saja adegan ketika Nero disajikan makanan berwarna emas. Warna emas pada makanan adalah sebuah ide konyol. Saya sendiri ketika menyaksikannya sedikit mengerenyitkan dahi, apalagi ketika melihat mereka memakan ayam berwarna emas tersebut, sebuah siksaan bagi para aktornya. Namun lepas dari itu, yang membuat film ini menarik dan menyenangkan untuk ditonton adalah plotnya dan akting para pemainnya.
The 'great' bridge to Jerussalem. Half-done?

Plotnya memikat. Penyusunan adegannya solid, tidak longgar, tidak terlalu lamban, dan efektif. Tak satupun adegan yang menurut saya membosankan atau tidak penting bagi kemajuan plot dari awal hingga akhir. Dibantu dengan penampilan para pemerannya yang bagus, adegan-adegan dari film ini pun juga ikut menjadi menarik. Misalkan, adegan ketika Deborra menyatakan cintanya pada Newman karena ia mengira bahwa Newman juga mencintainya. Akting kedua aktor buat saya berhasil menciptakan rasa-malu yang dirasakan Deborra ketika menyadari bahwa ternyata Newman tidaklah membalas cintanya. Atau adegan ketika Simon diperdaya oleh kegilaan dirinya sendiri yang mengira bahwa dirinya lebih dari Tuhan (Yesus), mengira bahwa dirinya bisa terbang. Pada adegan lainnya, Newman menunjukkan keahlian aktingnya ketika karakternya mengalami penampakkan Jesus. Saya rasa adegan ini adalah salah satu adegan paling berkesan dalam film ini, di samping monolog Peter dalam adegan terakhir film, yang lebih ditujukan pada penonton ketimbang pada Deborra dan Newman yang mulai meninggalkan dermaga dalam kapal mereka.
Paul Newman, sebagai Basil, talentanya bersinar sejak film perdananya

Selain itu, film ini juga memiliki kedalaman. Misalkan Newman yang gagal untuk melihat Jesus. Di saat yang sama, ia masih memendam hasrat pada cinta masa-kecilnya, Helena, wanita yang kontras dengan keluguan dan kemurnian Deborra. Kegagalan Newman melihat Jesus adalah penggambaran tertutupnya hatinya pada Tuhan, hingga akhirnya Yesus menampakkan diri padanya. Helena digambarkan sebagai wanita yang kotor. Ia dulunya adalah seorang budak. Secara implisit, bisa dikatakan bahwa Helena berhasil melepas predikat lamanya dengan cara yang, menurut ajaran agama Ibrahim, salah. Adegan ketika ia menuangkan minuman pada para prajurit sambil menggoda mereka mengisyaratkan bahwa Helena setidaknya pernah bercinta dengan mereka semua, bahkan mungkin seks-orgy dengan mereka semua. Helena juga dilambangkan sebagai Hawa, yang memberikan buah dari pohon terlarang pada Adam.
Helena menuangkan minuman pada semua prajurit yang ada

Memang The Silver Chalica yang sutradarai Victor Saville bukanlah bentuk terbaik yang bisa dilakukan. Namun film ini jauh dari membosankan karena masalah dari film ini bagi saya hanyalah masalah setting dan properti. Dari segi cerita dan semua pemainnya, film ini bagus. Namun bagi mereka yang menuntut kesempurnaan style sebuah film, atau memiliki level kelayakan yang agak-tinggi, saya tidak merekomendasi film ini. (PS: namun saya masih tidak mengerti kenapa ada yang bilang film ini membosankan...)